Thursday, 13 September 2012

saat saya menyapu dan menyirami jalan dengan air selokan terdengar celoteh bayi tetangga yg berumur sekitar 4 bulan. Oeeek, oeeek. Renyah suaranya berderai manja. Beda dengan lolongan bayi yang merasa diabaikan kepentingannya. Saya tahu, itu suara bayi yang hatinya bahagia. Sesekali juga tercium semerbak aroma minyak telon berbaur dengan bau bedak bayi. Oeek, oeeek... Bayi kecil yg belum bisa berk
ata-kata itu berdendang tembang tanpa syair tentang mahluk kecil yang tenteram sejahtera. Tuhan belum berkenan membuka pikiran dan nalarnya, bahwa dibalik kebahagiaan pasti ada pengorbanan. Orok manja itu mana mungkin tahu: untuk semua kenyamanan hidupnya, untuk ketersediaan air susunya, ada mahluk bernama ibunda yang terpaksa menangguhkan rencana, hasrat dan ambisi hidupnya. Perempuan sarjana ekonomi itu pernah jadi dara ceria, mahasiswi yang cantik lincah memesona. Dia dulu juga suka fashion, suka aneka sepatu, tas bermerek, dan demi Tuhan, dia ingin jadi pekerja kantoran, eksekutif yg mapan, perempuan karir, wanita yang mandiri mengelola hidup, kebebasan, leluasa menentukan akan diisi dengan apa siang dan malam harinya. Perempuan itu kini harus melupakan dulu semua ilusinya. Dia harus rela tubuhnya rusak oleh stretchmark, selulit, dan emosinya kacau dikarenakan pergolakan hormon di dalam tubuhnya. Tuhan belum tega menyadarkan bayi kecil itu bahwa dua atau windu ke depan dia mungkin akan menjalani lakon skenario kehidupan yang sama.

No comments:

Post a Comment