ata-kata itu berdendang tembang tanpa
syair tentang mahluk kecil yang tenteram sejahtera. Tuhan belum
berkenan membuka pikiran dan nalarnya, bahwa dibalik kebahagiaan pasti
ada pengorbanan. Orok manja itu mana mungkin tahu: untuk semua
kenyamanan hidupnya, untuk ketersediaan air susunya, ada mahluk bernama
ibunda yang terpaksa menangguhkan rencana, hasrat dan ambisi hidupnya.
Perempuan sarjana ekonomi itu pernah jadi dara ceria, mahasiswi yang
cantik lincah memesona. Dia dulu juga suka fashion, suka aneka sepatu,
tas bermerek, dan demi Tuhan, dia ingin jadi pekerja kantoran, eksekutif
yg mapan, perempuan karir, wanita yang mandiri mengelola hidup,
kebebasan, leluasa menentukan akan diisi dengan apa siang dan malam
harinya. Perempuan itu kini harus melupakan dulu semua ilusinya. Dia
harus rela tubuhnya rusak oleh stretchmark, selulit, dan emosinya kacau
dikarenakan pergolakan hormon di dalam tubuhnya. Tuhan belum tega
menyadarkan bayi kecil itu bahwa dua atau windu ke depan dia mungkin
akan menjalani lakon skenario kehidupan yang sama.
No comments:
Post a Comment