ta ‘lacrima’ yg artinya sama, air
mata). Cairan bening yang tumpah membasahi wajah itu adalah manifestasi
luapan emosi jiwa yang tak terbendung lagi, lalu menjebol tembok yang
disebut ketegaran, keangkuhan, dan gengsi. Itu adalah wujud tangis yang
paling jamak kita temui dalam keseharian hidup. Namun jangan sangka
menangis itu pekerjaan mudah. Banyak orang yang begitu keras hati dan
kebal nurani, sehingga perasaannya pun tumpul. Hidup menumpuk dosa
sambil menebar luka bagi sesama, main tipu sana sini, menelikung tanpa
henti. Jiwa mereka gersang seperti rumput ilalang di ujung kemarau
panjang. Orang-orang seperti itulah yang sesungguhnya paling membutuhkan
kesejukan tangis. Kata-kata halus, sentuhan lembut, tatapan mata yang
ikhlas, dan pelajaran nyata dari tragedi kehidupan, pada moment yang
tepat, akan membawa serpihan awan yang bergulung dan menggumpal jadi
butiran hujan tangis di wajah yang garang. Tangis, bagi orang-orang itu,
ibarat oase penyejuk jiwa yang suntuk. Pada detik-detik seperti itulah,
tangis membuat mereka lebih rendah hati dan dekat dengan Dia yang maha
mengasihi. Inilah tangis yang penuh berkah dan makin mendekatkan manusia
pada maghfiroh. Inilah cara saya menunjukkan kepada anda bahwa tangis
adalah ekspresi jiwa yang lumrah adanya. Sekali dalam hidup anda perlu
melepaskan topeng keangkuhan dan kepalsuan itu, dan membasuh jelaga
kemunafikan dari wajahmu dengan tangis yang menyehatkan. Menangislah,
tapi jangan mengobral air mata yang begitu berharga. Menangisi
kegagalan, misalnya, jelas sebuah kemubaziran. Meratapi nasib, apalagi
menangisi kekasih hati yang khianat, jelas sebuah kebodohan. Sujud
menelanjangi diri di tengah malam sunyi sambil memohon ampunan kepada
Yang Maha suci, itulah sebaik-baiknya tangis.
No comments:
Post a Comment