Thursday, 27 September 2012

28sept12

Buat kebanyakan orang awam, air mata sama asinnya, sebagaimana bau keringat sama sengaknya. Tapi bagi jiwa yang teraniaya, air mata punya sejuta rasa. Keluarnya butir-butir bening yang berasal dari kelenjar lachrymal (tearduct) itu sudah jadi kebutuhan yang niscaya bagi mereka yang dihimpit beban sebukit. Dalam bahasa Inggris, tangis disebut ‘lachrymose’ (dari bahasa Latin ‘lacrimosus’ dan akar ka
ta ‘lacrima’ yg artinya sama, air mata). Cairan bening yang tumpah membasahi wajah itu adalah manifestasi luapan emosi jiwa yang tak terbendung lagi, lalu menjebol tembok yang disebut ketegaran, keangkuhan, dan gengsi. Itu adalah wujud tangis yang paling jamak kita temui dalam keseharian hidup. Namun jangan sangka menangis itu pekerjaan mudah. Banyak orang yang begitu keras hati dan kebal nurani, sehingga perasaannya pun tumpul. Hidup menumpuk dosa sambil menebar luka bagi sesama, main tipu sana sini, menelikung tanpa henti. Jiwa mereka gersang seperti rumput ilalang di ujung kemarau panjang. Orang-orang seperti itulah yang sesungguhnya paling membutuhkan kesejukan tangis. Kata-kata halus, sentuhan lembut, tatapan mata yang ikhlas, dan pelajaran nyata dari tragedi kehidupan, pada moment yang tepat, akan membawa serpihan awan yang bergulung dan menggumpal jadi butiran hujan tangis di wajah yang garang. Tangis, bagi orang-orang itu, ibarat oase penyejuk jiwa yang suntuk. Pada detik-detik seperti itulah, tangis membuat mereka lebih rendah hati dan dekat dengan Dia yang maha mengasihi. Inilah tangis yang penuh berkah dan makin mendekatkan manusia pada maghfiroh. Inilah cara saya menunjukkan kepada anda bahwa tangis adalah ekspresi jiwa yang lumrah adanya. Sekali dalam hidup anda perlu melepaskan topeng keangkuhan dan kepalsuan itu, dan membasuh jelaga kemunafikan dari wajahmu dengan tangis yang menyehatkan. Menangislah, tapi jangan mengobral air mata yang begitu berharga. Menangisi kegagalan, misalnya, jelas sebuah kemubaziran. Meratapi nasib, apalagi menangisi kekasih hati yang khianat, jelas sebuah kebodohan. Sujud menelanjangi diri di tengah malam sunyi sambil memohon ampunan kepada Yang Maha suci, itulah sebaik-baiknya tangis.

No comments:

Post a Comment