Untuk
orang2 yang beriman, sakit pun jadi rahmat yg disyukuri. Terutama bagi yang
mengimani uang, penyembah kekuasaan, budak nafsu ambisi, terlebih pelaku
korupsi atau tersangka penyuapan. Sakit adalah rejeki yg paling dinanti2, sebab
penampilan tubuh yg gering, muka yg pucat, bibir yang peot dan mata yang
dijuling-julingkan adalah anugerah Tuhan yg bisa menyelamatkan mereka jeruji
tahanan. Begitulah, urusan sakit bukan hanya monopoli kaum melarat. Kaum
jetset, elit politik, cukong kekuasaan juga kerap memohon diberi sakit yang
kontan membuat mereka nampak amat mengenaskan. Untuk keperluan itu diperlukan
pengacara bejat, dokter bangsat, preman dan bodyguard, plus, kalau perlu,
tukang rias khusus yg bisa menyulap wajah menjadi persis mayat. Bravo, selamat
saudara tersangka koruptor, selamat, saudara terduga terpenyuap! Kalian ingin
benar2 sakit? Oke saya ikut mendoakan, semoga doa kita diamini setan!!
Q--Pak, umur bibi saya sudah 34 tahun. Dia sering putus
kalo pacaran. Cowok2 dia kayaknya tak ada yg serius dlm berhubungan. Terakhir
ada yg bersungguh2, tapi dia PNS di instansi, umurnya 47. Bibi saya sebenarnya
cinta, tapi melihat umur lelaki itu dia agak bimbang, kan PNS pensiun umur 55
ya pak? Bgm pandangan Bpk?
A--Bibi sampeyan itu cermat juga menghitung prospek
masa depan. Keraguan dan kalkulasinya masuk akal, tapi dia lupa bahwa Tuhan
bisa membuyarkan kalkulasi dari semua pakar hitungan. Laki2 itu pensiun umur
55, tapi rejeki kan bukan hanya datang dari pekerjaan tetapnya? Siapa tahu
kalau mrk nikah dia akan jadi istri yg bawa rejeki alias hoki? Dan kalau bibimu
itu benar2 pintar mengutak-atik jangka hitungan masa depan, dia pasti sejak
awal sudah menghindari pertemuannya dgn lelaki PNS itu. Buktinya dia jatuh hati
juga kan? Itu sudah bukti bahwa ilmu matematika yg dia sombongkan tak selamanya
bisa diandalkan. Begini saja, kalau bibimu bener cinta, jalani saja secepatnya.
Lelaki umur 47 tahun kan lagi jago-jagonya di ranjang. Kedewasaannya pun relatif
lebih matang. Bibimu umur berapa tadi? 34? Pada umur itulah segala pesona dan
kematangan perempuan muncul maksimal sebelum grafiknya turun beberapa tahun ke
depan. Dia tak tahu itu? Berarti dia payah menghitung siklus kehidupan.
...meneruskan status saya kemaren ttg kematian:
kalau you sudah tahu bhw semua mahluk hidup pasti mati, membusuk, jasadnya
mengurai, lalu melebur kembali dgn bumi, jadi makanan cacing dan belatung, jadi
pupuk pohon kamboja yg menaungi kubur kita, kenapa kita tak berusaha dgn sadar dan
sesungguhnya untuk memberi makna terbaik bagi setiap detik yg kita punya?
Berpikir positif, selalu optimistis, menebar harapan dan membangkitkan nyali
sesama manusia (tapi juga wajib memaki sesuatu yg tidak semestinya), memenuhi
relung paru dgn udara yg menghidupkan setiap partikel raga, memenuhi benak dgn
rencana, dan merayakan sekecil apapun keberhasilan dan rahmat yang
dianugerahkan olehnya, baik yg berupa kesehatan, mengapresiasi indahnya
kehidupan, berlapang dada menyambut petaka, cobaan iman, rejeki, pertemanan
atau inspirasi yang mencerahkan. Jika kita bisa konsisten mengupayakannya, saya
yakin: kapan pun ajal menjemput, kita akan mati dalam keadaan bahagia.
No comments:
Post a Comment