Tuesday, 9 October 2012

fb 9 oktober 12

Sobat-sobatku, dari bangku sekolah, kampus dan pondok pesantren kita mendapatkan ilmu dan macam-macam pelatihan, bekal keterampilan yg bermanfaat di hari depan, agar kita jadi warga yang berguna bagi kehidupan. Dgn ilmu dan keterampilan itu kita bisa mencari nafkah dan lolos dari kesulitan. Kita sukses berkiprah di tengah masyarakat sebagai profesional, kosultan, pejabat, pakar, teknokrat, rohania...
wan, atau seniman. Namun saat dihimpit kesulitan, manusia yg paling pintar pun kadang seperti kehilangan akal, terlebih jika kalkulasi, prediksi dan rencana2 hebat itu meleset dari perkiraan. Tak jarang mrk frustrasi, berputus asa, kehilangan akal atau jadi gila. Ada satu keterampilan yg mungkin pernah diajarkan lewat pengajian atau konseling, yaitu pentingnya bertawakkal, tabah, bersabar dan menahan diri. Saya menyebutnya 'berdamai dgn keadaan.' Sebelum anda bisa berdamai dgn diri sendiri, cobalah berdamai dgn keadaan. Makin tinggi target anda canangkan, makin hebat pula cobaan menyerang. Kian canggih sistem yg anda bangun, kian tinggi pula kompleksitas komponen-komponennya. Maka jangan heran kalau anda melihat petani miskin atau pedagang sayur di kampung lebih sehat mentalnya. Belum tentu mrk itu orang beriman atau luas wawasan. Mereka orang sederhana yg memandang hidup apa adanya, menjalaninya tanpa ambisi atau rencana yg aneh-aneh. Itulah mengapa mereka tdk mengalami tekanan jiwa seperti yg lazim kita derita. Kita lain dari mrk. Dari kalimat2 cerdas di buku motivasi dan sabda tokoh2 besar yg menginspirasi anda telecut untuk meraih prestasi demi hidup yg bergengsi. Segenap waktu, pemikiran dan energi tercurah untuk satu ambisi. Anda bukannya tak punya strategi dan kalkulasi yang seksama, tapi dialektika dan realitas hidup bisa membuyarkan semua. Anda kaget, terperangah, masygul dan gundah. Begitu gampangnya kehidupan ingkar janji, mencla-mencle dan melecehkan kecerdasan kalian. Pada titik itulah anda pupus semangat dan patah arang, lupa bahwa kalkulasi manusia cuma setitik debu di mata Tuhan. Bersabarlah, bukannya menyerah. Berhentilah sesaat, jiwamu lelah. Berdamailah dengan keadaan, apa yg anda alami ini belum seberapa. Anda masih hidup, masih makan, masih bisa berpikir, masih bisa membaca tulisan saya. Lihatlah laba-laba yg kembali menganyam sawang meski sarangnya hancur dikoyak topan. Lihatlah ketam yg menggali liang di dasar selokan tanpa peduli air bah akan menghantam. Lihatlah pipit yg setia merangkai rumput kering disela dahan meski ada risiko telurnya disambar elang. Lihatlah keritip di sela karang yg tak pernah takut diempas gelombang. Lihatlah mentari yg tak pernah padam meski tertutup awan hitam. Berdamailah dgn keadaan, bukan pasrah dlm kekalahan. Kegagalan sesaat adalah jeda istirahat yang nikmat--turunkan tensi, endapkan emosi, sikapi tantangan hidup dgn jeli. Tak kan lari gunung dikejar.

No comments:

Post a Comment